Home > Publikasi > essay > Perbuatan Zina dalam Tinjauan Filsafat Etika

Perbuatan Zina dalam Tinjauan Filsafat Etika

9 Mei 2019 15.25 WIB


Perbuatan Zina dalam Tinjauan Filsafat Etika

Aji Cahyono

DPK GmnI FSH UIN Sunan Ampel Surabaya

aji.cahyono96.ac@gmail.com


Etika merupakan pemikiran manusia yang tercakup dalam sebuah perangkat penilaian manusia dalam menghadapi lingkungannya. Kedudukan etika dalam kebudayaan menjadi modal penting dalam pengembangan wawasan pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu etika di dalam kajian filsafat merupakan cabang dari aksiologi yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari hakikat nilai. Salah satu bagian yang merupakan penjelasan-penjelasan dalam filsafat yang membicarakan masalah predikat baik (good) dan buruk (bad) dalam arti susila (moral) dan asusila (immoral). Predikat-predikat tersebut tidak akan mempunyai makna apapun (meaningless) bila tidak terwujud dalam tindakan manusia di alam empiris.[1]

Predikat-predikat di atas pada bentuk kualitasnya akan mengacu pada satu sisi dari dua sisi yang saling beroposisi, yakni pada sisi baik atau susila. Apabila seseorang menganntarkan simbol pada bentuk atribut yang sesuai dengan pendapat dan aturan umum maka dapat dikatakan bahwa tindakan tersebut bersusila, baik dan juga etis. Sehingga pada sisi baik dan bersusila disebut etika. Sebaliknya orang yang tidak sesuai dengan kebiasaan umum komunitasnya maka disebut sebagai tidak baik, tidak bersusila, tidak etis dan dianggap melanggar etika.[2]

Sedangkan, perbuatan zina merupakan perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada ikatan akad dalam perkawinan. Perbuatan zina dapat merusak kehormatan suatu keluarga maupun individual yang dapat menyebabkan kerusakan mental. Di indonesia yang notabenya mayoritas muslim, presentasi perbuatan zina yang dilakukan oleh para remaja kurang lebih dari 63%, sehingga menyebabkan pertumbuhan penduduk[3]. Akan tetapi, dengan adanya pertumbuhan penduduk, anak dari perbuatan zina dapat menyebabkan gangguan psikis sehingga marak munculnya angka pengangguran dan gelandangan karena melihat faktor kedua orang tuanya dari hasil perzinaan.

Agama Islam melarang dalam perbuatan zina, karena zina dapat berdampak negatif terdapat kondisi psikis anak yang sangat besar. Seperti halnya:[4] 1) menghancurkan masa depan anak. Anak yang dihasilkan dari hubungan gelap (perzinaan) akan menghadapi masa kanak-kanak dengan tidak bahagian karena ia tidak memiliki identitas ayah yang jelas. 2) merusak keturunan yang sah bila perzinaan menghasilkan seorang anak atau lebih. Keturunan yang sah menurut islam adalah anak yang dilahirkan dalam pernikahan yang sah. Bila hubungan gelap itu dilakukan dengan dua atau lebih laki-laki, maka akan mengaburkan hubungan nasab atau keturunan kepada bapak yang sebenarnya. 3) mendorong perbuatan dosa besar yang lain, seperti menggugurkan kandungan, membunuh wanita yang telah hamil karena perzinaan, atau bunuh diri karena menanggung rasa malu telah berzina. 4) menimbulkan berbagain jenis penyakit kelamin seperti, misalnya AIDS, bila perzinaan dapat dilakukan secara berganti-ganti pasangan. Walaupun saat ini telah ada alat pengaman hubungan seksual, namun hal tersebut tidak menjamin bebas tertular penyakit seksual menular. 5) terjerat hukuman berupa rajam sebanyak 100kali atau sampai mati. Hukuman sosial bagi keluarga pelaku zina juga berlaku dimasyarakat, dan hukuman ini akan berlaku sampai seumur hidup.

Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi dua puluh persen pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut, kata Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di pulau Palu, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah mencapai 29,9 persen.[5]

Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara.[6]

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwasanya perbuatan zina merupakan perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan tanpa ada persetujuan dan sepengetahuan orang tua dalam ikatan pernikahan. Ditinjau dalam kehidupan di negara Indonesia yang melarang aturan dalam berzina dalam Hukum berzina di Indonesia diatur dalam Bab XIV KUHP, Kejahatan Terhadap Kesusilaan, tepatnya pada Pasal 284 KUHP, yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut:[7]

Ø Ancaman dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan :

v Ke-1

a.      seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal diketahui bahwa Pasal 27 KUH Perdata berlaku baginya;

b.     seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak, padahal diketahui bahwa Pasal 27 KUH Perdata berlaku baginya.

v Ke-2

a.      seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin;

b.     seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan Pasal 27 KUH Perdata berlaku baginya.

Etika dalam perbuatan zina merupakan tindakan yang seksual dan keji dimata masyarakat Indonesia yang notabenya muslim. Etika dibuat atas dasar kemanusiaan yang berkeadilan sesuai dengan kaidah pancasila dan UUD 1945 yang di atur. Agar terciptanya masyarakat nuansa yang damai dan tentram sebangsa setanah air.


[1] https://www.kompasiana.com/juffrouw/54f600cea33311ab168b467a/filsafat-etika-menurut-alghazali-dan-imanuel-kant.

[2] https://www.kompasiana.com/juffrouw/54f600cea33311ab168b467a/filsafat-etika-menurut-alghazali-dan-imanuel-kant.

[3]http://nahimungkar.org/aastaqfirullah-63-remaja-Indonesia-berbuat-zina.html.

[4] http://pai-sman11.blogspot.com/2014/03/pengertian-zina-dan-macam-macamnya.html.

[5] http://coretankaumjelata.blogspot.com/2015/04/maraknya-perzinahan-di-indonesia.html.

[6] http://coretankaumjelata.blogspot.com/2015/04/maraknya-perzinahan-di-indonesia.html.

[7] http://reformasikuhp.org/tindak-pidana-zina-dalam-r-kuhp-2015

Perbuatan Zina dalam Tinjauan Filsafat Etika

Aji Cahyono

DPK GmnI FSH UIN Sunan Ampel Surabaya

aji.cahyono96.ac@gmail.com


Etika merupakan pemikiran manusia yang tercakup dalam sebuah perangkat penilaian manusia dalam menghadapi lingkungannya. Kedudukan etika dalam kebudayaan menjadi modal penting dalam pengembangan wawasan pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu etika di dalam kajian filsafat merupakan cabang dari aksiologi yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari hakikat nilai. Salah satu bagian yang merupakan penjelasan-penjelasan dalam filsafat yang membicarakan masalah predikat baik (good) dan buruk (bad) dalam arti susila (moral) dan asusila (immoral). Predikat-predikat tersebut tidak akan mempunyai makna apapun (meaningless) bila tidak terwujud dalam tindakan manusia di alam empiris.[1]

Predikat-predikat di atas pada bentuk kualitasnya akan mengacu pada satu sisi dari dua sisi yang saling beroposisi, yakni pada sisi baik atau susila. Apabila seseorang menganntarkan simbol pada bentuk atribut yang sesuai dengan pendapat dan aturan umum maka dapat dikatakan bahwa tindakan tersebut bersusila, baik dan juga etis. Sehingga pada sisi baik dan bersusila disebut etika. Sebaliknya orang yang tidak sesuai dengan kebiasaan umum komunitasnya maka disebut sebagai tidak baik, tidak bersusila, tidak etis dan dianggap melanggar etika.[2]

Sedangkan, perbuatan zina merupakan perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada ikatan akad dalam perkawinan. Perbuatan zina dapat merusak kehormatan suatu keluarga maupun individual yang dapat menyebabkan kerusakan mental. Di indonesia yang notabenya mayoritas muslim, presentasi perbuatan zina yang dilakukan oleh para remaja kurang lebih dari 63%, sehingga menyebabkan pertumbuhan penduduk[3]. Akan tetapi, dengan adanya pertumbuhan penduduk, anak dari perbuatan zina dapat menyebabkan gangguan psikis sehingga marak munculnya angka pengangguran dan gelandangan karena melihat faktor kedua orang tuanya dari hasil perzinaan.

Agama Islam melarang dalam perbuatan zina, karena zina dapat berdampak negatif terdapat kondisi psikis anak yang sangat besar. Seperti halnya:[4] 1) menghancurkan masa depan anak. Anak yang dihasilkan dari hubungan gelap (perzinaan) akan menghadapi masa kanak-kanak dengan tidak bahagian karena ia tidak memiliki identitas ayah yang jelas. 2) merusak keturunan yang sah bila perzinaan menghasilkan seorang anak atau lebih. Keturunan yang sah menurut islam adalah anak yang dilahirkan dalam pernikahan yang sah. Bila hubungan gelap itu dilakukan dengan dua atau lebih laki-laki, maka akan mengaburkan hubungan nasab atau keturunan kepada bapak yang sebenarnya. 3) mendorong perbuatan dosa besar yang lain, seperti menggugurkan kandungan, membunuh wanita yang telah hamil karena perzinaan, atau bunuh diri karena menanggung rasa malu telah berzina. 4) menimbulkan berbagain jenis penyakit kelamin seperti, misalnya AIDS, bila perzinaan dapat dilakukan secara berganti-ganti pasangan. Walaupun saat ini telah ada alat pengaman hubungan seksual, namun hal tersebut tidak menjamin bebas tertular penyakit seksual menular. 5) terjerat hukuman berupa rajam sebanyak 100kali atau sampai mati. Hukuman sosial bagi keluarga pelaku zina juga berlaku dimasyarakat, dan hukuman ini akan berlaku sampai seumur hidup.

Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi dua puluh persen pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut, kata Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di pulau Palu, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah mencapai 29,9 persen.[5]

Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara.[6]

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwasanya perbuatan zina merupakan perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan tanpa ada persetujuan dan sepengetahuan orang tua dalam ikatan pernikahan. Ditinjau dalam kehidupan di negara Indonesia yang melarang aturan dalam berzina dalam Hukum berzina di Indonesia diatur dalam Bab XIV KUHP, Kejahatan Terhadap Kesusilaan, tepatnya pada Pasal 284 KUHP, yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut:[7]

Ø Ancaman dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan :

v Ke-1

a.      seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal diketahui bahwa Pasal 27 KUH Perdata berlaku baginya;

b.     seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak, padahal diketahui bahwa Pasal 27 KUH Perdata berlaku baginya.

v Ke-2

a.      seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin;

b.     seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan Pasal 27 KUH Perdata berlaku baginya.

Etika dalam perbuatan zina merupakan tindakan yang seksual dan keji dimata masyarakat Indonesia yang notabenya muslim. Etika dibuat atas dasar kemanusiaan yang berkeadilan sesuai dengan kaidah pancasila dan UUD 1945 yang di atur. Agar terciptanya masyarakat nuansa yang damai dan tentram sebangsa setanah air.


[1] https://www.kompasiana.com/juffrouw/54f600cea33311ab168b467a/filsafat-etika-menurut-alghazali-dan-imanuel-kant.

[2] https://www.kompasiana.com/juffrouw/54f600cea33311ab168b467a/filsafat-etika-menurut-alghazali-dan-imanuel-kant.

[3]http://nahimungkar.org/aastaqfirullah-63-remaja-Indonesia-berbuat-zina.html.

[4] http://pai-sman11.blogspot.com/2014/03/pengertian-zina-dan-macam-macamnya.html.

[5] http://coretankaumjelata.blogspot.com/2015/04/maraknya-perzinahan-di-indonesia.html.

[6] http://coretankaumjelata.blogspot.com/2015/04/maraknya-perzinahan-di-indonesia.html.

[7] http://reformasikuhp.org/tindak-pidana-zina-dalam-r-kuhp-2015