DPC GMNI Surabaya
DPC GMNI Surabaya
Selamat datang di website resmi DPC GMNI Surabaya.

Baca Selengkapnya

Sejarah

Sejarah DPC GMNI Surabaya

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, atau disingkat GMNI, lahir sebagai hasil proses peleburan 3 (tiga) organisasi mahasiswa yang berazaskan Marhaenisme Ajaran Bung Karno. Ketiga organisasi itu adalah :

Baca Sejarah Lengkap

Publikasi

Karya Anggota DPC GMNI Surabaya

Perbuatan Zina dalam Tinjauan Filsafat Etika

essay

Perbuatan Zina dalam Tinjauan Filsafat EtikaAji CahyonoDPK GmnI FSH UIN Sunan Ampel Surabayaaji.cahyono96.ac@gmail.comEtika merupakan pemikiran manusia yang tercakup dalam sebuah perangkat penilaian manusia dalam menghadapi lingkungannya. Kedudukan etika dalam kebudayaan menjadi modal penting dalam pengembangan wawasan pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu etika di dalam kajian filsafat merupakan cabang dari aksiologi yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari hakikat nilai. Salah satu bagian yang merupakan penjelasan-penjelasan dalam filsafat yang membicarakan masalah predikat baik (good) dan buruk (bad) dalam arti susila (moral) dan asusila (immoral). Predikat-predikat tersebut tidak akan mempunyai makna apapun (meaningless) bila tidak terwujud dalam tindakan manusia di alam empiris.[1]Predikat-predikat di atas pada bentuk kualitasnya akan mengacu pada satu sisi dari dua sisi yang saling beroposisi, yakni pada sisi baik atau susila. Apabila seseorang menganntarkan simbol pada bentuk atribut yang sesuai dengan pendapat dan aturan umum maka dapat dikatakan bahwa tindakan tersebut bersusila, baik dan juga etis. Sehingga pada sisi baik dan bersusila disebut etika. Sebaliknya orang yang tidak sesuai dengan kebiasaan umum komunitasnya maka disebut sebagai tidak baik, tidak bersusila, tidak etis dan dianggap melanggar etika.[2]Sedangkan, perbuatan zina merupakan perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada ikatan akad dalam perkawinan. Perbuatan zina dapat merusak kehormatan suatu keluarga maupun individual yang dapat menyebabkan kerusakan mental. Di indonesia yang notabenya mayoritas muslim, presentasi perbuatan zina yang dilakukan oleh para remaja kurang lebih dari 63%, sehingga menyebabkan pertumbuhan penduduk[3]. Akan tetapi, dengan adanya pertumbuhan penduduk, anak dari perbuatan zina dapat menyebabkan gangguan psikis sehingga marak munculnya angka pengangguran dan gelandangan karena melihat faktor kedua orang tuanya dari hasil perzinaan.Agama Islam melarang dalam perbuatan zina, karena zina dapat berdampak negatif terdapat kondisi psikis anak yang sangat besar. Seperti halnya:[4] 1) menghancurkan masa depan anak. Anak yang dihasilkan dari hubungan gelap (perzinaan) akan menghadapi masa kanak-kanak dengan tidak bahagian karena ia tidak memiliki identitas ayah yang jelas. 2) merusak keturunan yang sah bila perzinaan menghasilkan seorang anak atau lebih. Keturunan yang sah menurut islam adalah anak yang dilahirkan dalam pernikahan yang sah. Bila hubungan gelap itu dilakukan dengan dua atau lebih laki-laki, maka akan mengaburkan hubungan nasab atau keturunan kepada bapak yang sebenarnya. 3) mendorong perbuatan dosa besar yang lain, seperti menggugurkan kandungan, membunuh wanita yang telah hamil karena perzinaan, atau bunuh diri karena menanggung rasa malu telah berzina. 4) menimbulkan berbagain jenis penyakit kelamin seperti, misalnya AIDS, bila perzinaan dapat dilakukan secara berganti-ganti pasangan. Walaupun saat ini telah ada alat pengaman hubungan seksual, namun hal tersebut tidak menjamin bebas tertular penyakit seksual menular. 5) terjerat hukuman berupa rajam sebanyak 100kali atau sampai mati. Hukuman sosial bagi keluarga pelaku zina juga berlaku dimasyarakat, dan hukuman ini akan berlaku sampai seumur hidup.Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi dua puluh persen pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut, kata Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di pulau Palu, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah mencapai 29,9 persen.[5]Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara.[6]Jadi dapat diambil kesimpulan bahwasanya perbuatan zina merupakan perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan tanpa ada persetujuan dan sepengetahuan orang tua dalam ikatan pernikahan. Ditinjau dalam kehidupan di negara Indonesia yang melarang aturan dalam berzina dalam Hukum berzina di Indonesia diatur dalam Bab XIV KUHP, Kejahatan Terhadap Kesusilaan, tepatnya pada Pasal 284 KUHP, yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut:[7]Ø Ancaman dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan :v Ke-1a.      seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal diketahui bahwa Pasal 27 KUH Perdata berlaku baginya;b.     seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak, padahal diketahui bahwa Pasal 27 KUH Perdata berlaku baginya.v Ke-2a.      seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin;b.     seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan Pasal 27 KUH Perdata berlaku baginya.Etika dalam perbuatan zina merupakan tindakan yang seksual dan keji dimata masyarakat Indonesia yang notabenya muslim. Etika dibuat atas dasar kemanusiaan yang berkeadilan sesuai dengan kaidah pancasila dan UUD 1945 yang di atur. Agar terciptanya masyarakat nuansa yang damai dan tentram sebangsa setanah air.[1] https://www.kompasiana.com/juffrouw/54f600cea33311ab168b467a/filsafat-etika-menurut-alghazali-dan-imanuel-kant.[2] https://www.kompasiana.com/juffrouw/54f600cea33311ab168b467a/filsafat-etika-menurut-alghazali-dan-imanuel-kant.[3]http://nahimungkar.org/aastaqfirullah-63-remaja-Indonesia-berbuat-zina.html.[4] http://pai-sman11.blogspot.com/2014/03/pengertian-zina-dan-macam-macamnya.html.[5] http://coretankaumjelata.blogspot.com/2015/04/maraknya-perzinahan-di-indonesia.html.[6] http://coretankaumjelata.blogspot.com/2015/04/maraknya-perzinahan-di-indonesia.html.[7] http://reformasikuhp.org/tindak-pidana-zina-dalam-r-kuhp-2015. 

Selengkapnya

Media Kontruksi Permasalah Sosial

essay

Media Kontruksi Permasalah SosialOleh : Ragil Ajeng Pratiwi (Sawo) dan Aji Sudah kurang lebih sepekan berita menyajikan perbincangan kasus perundungan antar remaja perempuan di Indonesia yang terjadi di Pontianak. Agak sedikit menggelitik karena pada kasus tersebut, medatangkan sebuah isu yang mampu menghebohkan masyarakat. Padahalan sejauh ini pihak berwajib ataupun pada lembaga kepolisian yang terkait belum berani memberikan klarifikasi atas kejadian ini. Media masyarakat seakan dengan mudah segera memberikan informasi kepada masyarakat dengan isu konflik antar remaja perempuan yang jelas jika dibenturkan dengan ajaran sosial dan budaya sangat bersebrangan. Usut punya usut kasus yang menimpa pada konflik tersebut belum dapat dikatakan bahwa pelaku perundungan antar remaja perempuan ditetapkan menjadi tersangka. Yang menyedihkan ungkapan kekesalan yang diterima menjadi tekanan sosial bagi yang melakukan perundungan  dan korban perundungan. Media segeralah menyajikan kepada masyarakat mengenai kasus tersebut, yang dimana kita tau bahwasannya bagi pelaku perundungan ataupun korban sama-sama dibawah umur. Ruang publik media menjadikan kasus yang seharusnya diselesaikan oleh pihak berwajib justru menyebabkan statmen-statmen yang baru sebelum kita tau inti dari permasalahan tersebut ada dimana. Media yang dimana sebagai sarana penyampai informasi kepada masyarakat luas memiliki kekuatan dalam membentuk realitas sosial. Karena kekuatan media dapat membentukan realitas pembenaran di masyarakat. Hal ini didorong sikap masyarakat yang menggunakan media yang masih membenarkan informasi apapun yang ada di media tanpa bijak. Hal ini bearti realitas sosial yang dibangun dari media massa dapat dijadikan pembenaran akan suatu hal. Hal tersebut terlihat dari pada masing-masing pandangan pemikiran pada pengguna media sosial yang aktif dalam mengikuti kasus perudungan di Pontianak.  Dengan mudahnya masyarakat dunia maya  melakukan  ujaran kekesalan yang disampaikan pada media sosial masing-masing. Jika mencari sebab musabab permasalahan dari kasus tersebut kita sebagai bagian masyarakat haruslah bersikap bijak dan memberikan permasalahan tersebut pada pihak berwajib yaitu kepolisian. Bukan bearti tidak boleh berpendapat namun agar tidak terjadinya pembenaran yang belum kita ketahui sebelum pihak kepolisian menyampaikan pada media sendiri. Adakalahnya kita sebagai masyarakat tetap mengawasi bagaimana kasus tersebut tetap tegas dan diselesaikan sesuai dengan aturan hukum dan perlindungan anak yang berlaku.  Konflik antar perempuan tersebut merupakan bagian dari krisis peran remaja perempuan dalam mengamalkan pancasila yang dimana pancasila sendiri merupakan bagian dari perempuan memiliki peran dalam pengamalan agama sebagai tiang peradaban manusia, pengamalan perempuan yang terlibat dalam pembentukan manusia yang beradab, pengamalan nasionalisme yang dalam arti bicara empati dan simpati, pengamalan demokrasi yang dapat menyampaikan suara dengan tujuan bersama dan pengamalan keadilan yang berprinsip pada kemerataan sosial. Dalam hal ini realitas media menjadi penentu karakteristik dasar dalam pembentukan media massa. Dengan munculnya realita antar konflik remaja perempuan seperti itu menunjukkan betapa mirisnya mengalami degradasi moral sehingga muncul di depan publik dan menjadi viral. Sehingga perlu penegasan kembali dalam menanamkan pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia yang berkemajemukan. Pada intinya adalah sudah menjadi hal yang paradoks antara pancasila dan degradasi moral seorang perempuan dalam berkehidupan berbangsa. Sehingga dengan munculnya komunitas lingkar studi komprehensif surabaya yang berlandaskan pancasila, peka terhadap kondisi lingkungan sosial yang begitu mempriharinkan dari zaman ke zaman sehingga sebagai bagian dari warga negara Indoensia perlu di kaji secara komprehensif mengenai kasus degradasi moral perempuan. Sehingga ada 5 poin yang terpenting dalam kajian Komprehensif dalam krisis seorang perempuan dalam menghayati pancasila: 1. Sila pertama yang menunjukan ketuhanan yang maha esa. Sudah menjadi hal yang mutlak bahwasanya Tuhan sangat murka melihat berbagai konflik yang terjadi di bangsa Ini, karena pada hakikatnya dari suatu Agama yang berketuhanan yaitu menjalankan perintah yang baik maupun menjauhi larangan - larangan Tuhan. 2. Sila kedua yang menunjukan kemanusiaan yang adil dan beradab. Sudah menjadi hal yang diluar koridor dari sila kedua dalam realita ini. Muncul suatu konflik, kurangnya pendidikan karakter sehingga seringkali konflik yang mengakibatkan salah satunya seorang perempuan menunjukkan karakter yang tidak beradab sesuai dengan kepribadian bangsa secara ideologis. 3. Persatuan Indonesia menjadi hal yang final untuk mempersatukan bangsa Indonesia menjadi suatu kekuatan yang bersifat dinamis. Sehingga dengan munculnya kasus ini perlu ditangani secara langsung oleh pihak yang berwajib. Dan juga memberikan edukasi secara positif dengan pentingnya melakukan hal yang kecil yaitu menghindari konflik, salah satunya konflik yang terjadi oleh audrey dan tersangka sebagai kaum perempuan yang dirasa kurang etis. 4. Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat, kebijaksanaan, dalam permusyawaratan perwakilan. Peran kerakyatan dalam ruang lingkup yang kecil adalah keluraga. Peran dalam memunculkan pendidikan karakter merupakan orang tua. Sehingga apabila mengacu dalam prespektif psikologi juga tidak terlepas dadi peran orang tua dalam mendidik. 5. Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia menjadi salah satu peran dalam berkeadilan dalam berbudaya. Lingkungan sosial yang dinamis,. kepribadian sosial yang baik menunjukan masyarakat yang baik sehingga realisasi dalam sila ke-5 menjadi realisasi.

Selengkapnya

Rekonstruksi Kader GmnI UIN Sunan Ampel melalui Hijrah Cinta di Kota Blitar

essay

Rekonstruksi Kader GmnI UIN Sunan Ampel melalui Hijrah Cinta di Kota BlitarAji CahyonoDPK GmnI FSH UIN Sunan Ampel Surabayaaji.cahyono96.ac@gmail.com"Jangan berharap apa yang kamu dapatkan ketika hanya menunggu apa yang kamu dapatkan, akan tetapi bergerak dan berproses dengan sabar, ikhas lan temen di Gerakan ini selagi masih bernafas didalam muka bumi ini sehingga apa yang diharapkan dapat terwujud sesuai dengan hati nurani".(aji_cahyono99)Tulisan ini sebagai bentuk terima kasih kepada pihak yang terlibat. saya persembahkan kepada:1.     Kepada bung Qosam selaku kader GmnI UIN Sunan Ampel Surabaya angkatan ’15 (Sesama Alumni MAN Babat) yang pernah mengajak seorang penulis untuk bergabung didalam barisan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia di UIN Sunan Ampel.2.     Kepada para senior maupun demisioner yang telah memberikan pengajaran sehingga penulis bisa belajar sehingga dapat menghasilkan karya tulisan secara pendekatan ideologis GmnI yang dapat diimplementasikan.3.     Kepada para perintis maupun alumni GmnI UIN Sunan Ampel Surabaya yang telah memperjuangkan GmnI di UIN Sunan Ampel sehingga GmnI UIN Sunan Ampel masih tetap berdiri di atas bumi untuk menyebarluaskan ajaran ajaran nasionalisme Indonesia di kampus islami.4.     Kepada kader angkatan ’16 GmnI UIN Sunan Ampel yang telah berproses bersama-sama didalam barisan Gerakan ini pada saat PPAB bersama maupun KTD bersama tahun 2016 di Bumi Tretes, Prigen Kab. Pasuruan yang telah memotivasi penulis untuk belajar dan berproses bersama untuk memperjuangkan amanat dari bung karno di dalam bingkai Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia).5.     Kepada pemateri dari kader, pengurus Dewan Pimpinan Cabang Surabaya, alumni GmnI PPAB dan KTD tahun 2016 yang memberikan sumbangsih baik secara pemikiran maupun secara materiil sehingga mampu mengaplikasikan apa yang terkandung di GmnI melalui karya tulis ini.6.     Kepada peserta Kaderisasi Tingkat Menengah (2018) DPD GmnI Jawa Timur yang mampu memberikan sumbangsih gagasan pemikiran melalui forum diskusi sehingga penulis dapat terinspirasi dengan kelebihan kawan-kawan Kaderisasi Tingkat Menengah yang diselenggarakan di Banyuwangi.7.     Terima kasih kepada Pengurus Korda terakhir atau DPD GmnI Jawa Timur pertama yang mampu menyelenggarakan Kaderisasi Tingkat Menengah sehingga penulis berkesempatan untuk menjadi peserta.8.     Terima kasih kepada pemateri Kaderisasi Tingkat Menengah tahun 2018 DPD GmnI Jawa Timur dapat memberikan gagasan keilmuannya baik secara oragnisasi GmnI maupun keilmuan akademis yang pernah digelutinya.9.     Terima kasih kepada tuan rumah DPC GmnI Banyuwangi yang telah memfasilitasi penulis sehingga penulis dapat berkesempatan untuk mengikuti KTM.10. Kepada DPC GmnI Surabaya yang telah mendelegasikan penulis untuk mengikuti Kaderisasi Tingkat Menengah di tahun 2018.11. Kepada DPC GmnI Blitar menjadi tuan rumah dalam kegiatan Hijrah Cinta di Kota Blitar dengan sambutan begitu hangat sehingga kawan GmnI UIN Sunan Ampel dapat belajar bersama.12. Kepada pendiri GmnI sehingga gerakan ini mampu tetap eksis walaupun dikala itu mengalami degradasi gerakan.13. Kepada kedua orang tua yang telah memberikan pelayanan pendidikan berupa financial hingga menjadi mahasisiwa UIN Sunan Ampe sehingga syarat untuk masuk di GmnI harus berstatus sebagai mahasiswa.14. Dan terima kasih kepada kader GmnI UIN Sunan Ampel Surabaya, kader GmnI Se-Indonesia yang terlibat dalam kehidupan penulis sehingga mampu menjadikan suatu pembelajaran kepada penulis untuk kedepannyaDinamika dalam pengimplementasian nilai yang terkandung di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ruang lingkup GmnI UIN Sunan Ampel. GmnI (Gerakan mahasiswa nasional Indonesia) merupakan organisasi mahasiswa ekstra kampus yang bertujuan untuk menjawab tantangan dalam melatarbelakangi dinamika bangsa Indonesia yang mengalami degradasi moral sehingga di tahun millennial ini mahasiswa banyak yang mendedikasikan diri untuk anti ormek. Dengan adanya GmnI untuk mewadahi dalam ruang lingkup mahasiswa akan sadar dengan rasa cinta tanah air (nasionalisme) sehingga menjadi jawaban yang tepat apabila GmnI mempunyai peran dalam menangkal isu radikalisme Agama atau konservatif dalam agama sehingga menimbulkan suatu perpecahan dalam bangsa Indonesia yang tak dapat disatukan secara kultur. GmnI UIN Sunan Ampel mempunyai maksud dengan bertujuan mengintegrasikan ideologi antara nasionalisme dan islamisme, sehingga dengan adanya GmnI di UIN Sunan Ampel menjadi tantangan dalam membumikan nasionalisme di bumi kampus 117. Salah satu slogan yang berbahasa Arab (Hubbul Wathon minal Iman) yang bermakna cinta tanah air merupakan bagian dari keimanan) menjadi tolak ukur mengkolaborasikan antara nasionalisme dan Islamisme. Salah satu bentuk implementasi dari kawan GmnI UIN Sunan Ampel dalam mengkolaborasikan nasionalisme dan islamisme adalah dengan adanya hijrah cinta bersama kader GmnI UIN Sunan Ampel berziarah kemakam bung karno sekaligus mengunjungi tempat singgasana bung karno yang berada di blitar. Kegiatan hijrah cinta berlangsung pada tanggal 24 -25 januari 2019. Rumusan kegiatan hijrah cinta ke blitar di komando oleh salah satu kader perempuan aset GmnI UIN Sunan Ampel adalah Sarinah Agista (nama famousnya biasanyanya dikenal dengan sarinah gembul). Sarinah gembul merupakan kader angakatan ’18 atau kader baru. Dengan komitmen dan dedikasi sebagai penanggung jawab utama sehingga kegiatan hijrah cinta ke blitar dapat dilaksanakan dengan diikuti oleh kurang lebih sekitar 40 kader GmnI UIN Sunan Ampel yang tergabung oleh 2 komisariat yaitu komisariat Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) maupun komisariat Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) dapat berjalan dengan lancar meskipun takdir telah menghendaki dengan berupa hujan rintik – rintik (hujannya orang baper dan bercinta). Kedua komisariat selalu berjalan beriringan seperti halnya seorang ulama mau berdakwah, hal yang paling mendasar sebelum berdakwah adalah memahami atau implementasikan syariat terlebih dahulu meskipun tidak 100% syariat di terapkan.Pendekatan Marhaenisme dalam Prespektif Hijrah Cinta di Kota Blitar. Hijrah cinta menjadi suatu kenangan buat kader GmnI UIN Sunan Ampel maupun sebagai inspirasi baik buat kader GmnI se-Indonesia mapun diluar kader GmnI. Dengan semangat gotong royong, semangat mengacu pada azaz GmnI yaitu marhaenisme dapat di implementasikan melalui hijrah cinta. Marhaenisme bukan lagi hal yang bersifat utopis, akan tetapi marhaenisme menjadi hal yang konkret. Statement bahwasanya marhaenisme itu utopis halnya mempunyai paradigma yang sempit. Implementasi dari suatu marhaenisme dalam prespektif hijrah cinta dapat terealisasikan apabila mengacu dari trisila yang dikemas dari marhaenisme adalah:1.     Sosio Nasionalisme. Terdapat dua term yang dapat dipisahkan yaitu sosio dan nasionalisme. Ditinjau secara termologi bahwasanya sosio berasal dari KBBI (berhubungan dengan masyarakat), dan nasionalisme secara terminologi merupakan faham atau ajaran yang mengkaji persoalan rasa cinta tanah air atau mencintai bangsanya sendiri. Implementasi dari sosio nasionalisme dalam prespektif hijrah cinta ke blitar yaitu dengan kujungan di beberapa tempat di sekitar kota blitar yaitu dengan adanya tempat singgahsana bung karno di Istana Gebang. Di istana gebang terdapat peninggalan bersejarah yang diwariskan oleh bung karno di istana gebang dapat dilestarikan. Dan juga peninggalan candi penataran oleh salah satu raja di kerjaan hindu dikala itu yaitu raja majapahit yang bernama Hayam Wuruk (masyarakat penataran). Salah satu peninggalan yang diwariskan oleh para leluhur dengan rasa nasionalisme untuk menjaga dan melestarikan peninggalan yang ada dengan semangat gotong royong dalam melestarikan situs bersejarah yang ada di blitar oleh kalangan masyarakat kota blitar. 2.     Sosio-Demokrasi. Terdapat dua term yang dapat dipisahkan yaitu sosio dan demokrasi. Ditinjau secara termologi bahwasanya sosio berasal dari KBBI (berhubungan dengan masyarakat), dan demokrasi secara etimologis berasal dari dua kata dalam bahasa yunani yaitu Demos artinya rakyat dan Kratein artinya Pemerintahan Demokrasi secara terminologis berarti sebuah sistem pemerintahan dara rakyat oleh rakyat serta untuk rakyat dalam artian pada sistem ini rakyat memegang kekuasaan secara penuh dalam pemerintahan Negara.[1] Pernyataan yang termuat diatas apabila dianalogikan maupun dikaitkan dengan keorganisasian didalam barisan GmnI UIN Sunan Ampel Surabaya merupakan keputusan maupun kebijakan hanya ditangan kader GmnI tersendiri. Dengan terselenggaranya kegiatan hijrah cinta yang dilaksanakan di Kota Blitar merupakan bentuk manifestasi sosio demokrasi melalui musyawarah mufakat. Musyawarah merupakan forum dimana para kader GmnI UIN Sunan Ampel memberikan gagasan secara ide melalui dialektika bersama-sama untuk mengambil benang merah kegiatan tersebut sehingga menghasilkan kesimpulan yang konkret. Kegiatan hijrah cinta di kota blitar menjadi rekam jejak secara histories. Maka perlu adanaya pendekatan dialektika histories sehingga terlaksana kegiatan hijrah cinta.3.     Ketuhanan Yang Maha Esa. Salah satu bagian dari intisari marhaensime adalah dengan adanya ketuhanan yang maha Esa. Pendekatan ini menjadi suatu rujukan bersama secara solutif dengan berkeyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menurut keyakinan masing-masing sebagai warga Negara Indonesia yang menganut landasan idiil Negara Indonesia sila pertama dari pancasila. Sebelum masuk di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, kajian yang paling mendasar adalah dengan mengimplementasikan nilai-nilai pancasila sala satunya sila pertama. Di sila pertama atau sila ketiga dari trisila azaz marhaenisme menjadi tugas dan tanggung jawab menjadi kader GmnI menurut keyakinan masing-masing. Di GmnI UIN Sunan Ampel basis kader mayoritas menjadi seorang muslim dapat mengimplementasikan nilai-nilai ketuhanan di elaborasikan dengan kultur Islam Nusantara. Pengimplementasian nilai-nilai ketuhanan dalam prespektif hijrah cinta sangat berkaitan. Seperti halnya kegiatan hijrah cinta yang di laksanakan oleh kedua komisariat FSH dan FDK. Pendekatan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa direalisasikan pada kegiatan hijrah cinta di kota blitar dengan Tawasul kepada Para pendiri bangsa Indoneisa yaitu ke makam Bung Karno (The Founding Father) dengan membacakan Tahlil bersama-sama kader GmnI UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai bentuk rasa terima kasih atas perjuangan bung karno dikala masa sebelum kemerdekaan dan pasca kemerdekaan sebelum dikudeta oleh rezim orde baru. Salah satu gerakan ini menjadi representasi dari bentuk syukur terhadap Tuhan dan berterima kasih kepada pejuang bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan secara politik maupun kemerdekaan dalam kesejahteraan dan keamanan bangsa Indonesia. Semoga menjadi inspiratif buat kawan-kawan yang mempunyai latarbelakang etnis muslim yang berproses di GmnI menjadi rujukan bersama untuk mengingat kembali jasa beliau dalam barisan Thariqat wal Islamiyah untuk membentuk ukuwah wathoyinah (persatuan Indonesia) Merdeka!!!GmnI Jaya!!!Marhaenmenang!!! [1] https://brainly.co.id/tugas/1797170 diakses pada tanggal 29 januari 2019 pukul 22.51

Selengkapnya

Di Bawah Bendera Revolusi Djilid I-Analisis

essay

Di Bawah Bendera Revolusi Djilid IAji Cahyono. (UIN Sunan Ampel Surabaya.)aji.cahyono96.ac@gmail.comNasionalisme, Islamisme, dan Marxisme.Indonesia merupakan negara yang beraneka ragam dari suku, ras, agama, bahkan ideologi yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Keberagaman yang mengacu di dalam bangsa Indonesia sesuai dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi tetap satu jua) yang mampu mempersatukan bangsa lain dari faham-faham yang ekstrem atau bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia, “Pancasila”, sebagai landasan idiil bangsa Indonesia. Dengan paham nasionalisme, islamisme, dan marxisme merupakan bagian dari awal mulanya dirumuskannya Pancasila, sebagai hasil perenungan dari Bung Karno selama hijrah dari penjara ke penjara, pulau ke pulau ketika menjadi seorang tahanan politik, karena dapat mengancam kaum kolonialisme dan imperialisme Belanda yang tidak manusiawi.Meninjau dari segi historis, bangsa Indonesia merupakan realitas masyarakat Indonesia yang tergerus oleh paradigma penindasan yang dilakukan oleh Belanda sehingga tak memberikan kesejahteraan oleh kaum proletar (atau identik dengan kaum golongan kecil dalam prespektif kesejahteraan). Karena itulah Bung Karno dengan sengaja menuliskan bab yang berjudul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” di buku "Di Bawah Bendera Revolusi Djilid I” tentang semangat revolusi dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia tanpa adanya ketergantungan oleh bangsa lain. Ini semua dengan maksud dan tujuan agar masyarakat Indonesia dapat merasakan kesejahteraan melalui pemanfaatan kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia sehingga konsepsi dalam nasionalisme, islamisme, dan marxisme sebagai ideologi perjuangan dan gerakan menuju tatanan masyarakat yang berkeadilan sosial untuk rakyat Indonesia.“Sebagai aria-bima poetera jang lahirnja dalam zaman perjoeangan, maka Indonesia Moeda inilah melihat tjahaja bangsa Asia jang sesama nasib dalam perasaan tak senang dengan nasib politiknja, tak senang dengan segala nasib-nasib jang lainnya” “jang pertama-tama menjebabkan kolonialisasi ialah hampir selamanja kekoerangan bekal hidoep dalam tanahnja sendiri” begitoelah Dietrich Schafer berkata “Kekoerangan Rezeki, itoelah jang menjadi sebab rakjat rakjat itoe mendjadjah negeri-negeri , dimana mereka bisa mendapatkan rezeki itoe.” Begitoelah tragik riwajat-riwajat negeri-negeri jajahan! Dan keinsjafan akan terdjadi jang menjadarkan rakjat-rakjat djadjahan itu, maka Spirit Of Asia masilah kekal. Roh asia masih hidoep sebagaai api jang tiada padamnya! Rakjat indonesia kita jang maksoednja sama, jaitoe tiga sifat: Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme.Dengan statement yang di atas menunjukkan bahwasanya tidak hanya di Indonesia, akan tetapi bangsa lain yang mencakup negara asia juga merasakan ketertindasan oleh kolonialisme dan imperialisme yang begitu keji sehingga gerakan kapitalisme semakin masif dengan tuntutan masyarakat Indonesia kerja tanam paksa. Dan menjadi langkah solutif adalah dengan semangat gerakan progresif revolusioner yang menjebol tatanan yang pragmatis terhadap realitas kapitalistik yang keji dan tak manusiawi.Unsur dari ketiga sifat Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme merupakan ideologi dari satu kesatuan yang utuh sehingga menghasilkan roh persatuan, apabila 3 unsur ini dapat direalisasikan dengan baik oleh seluruh elemen bangsa Indonesia atau Bangsa Asia, maka kekuatan dalam menghadapi faham imperialisme dan pengikutnya dapat digulingkan.Nasionalisme merupakan faham yang mengedepankan cinta tanah air yang menjadi suatu konsesus bersama untuk suatu kelompok maupun negara. Yang dianut oleh bangsa Indonesia bukanlah nasionalisme fasisme maupun nasionalisme yang chauvinistik, akan tetapi nasionalisme Indonesia dalam pendekatannya “Humanistik”, seperti dalam statement bung karno yaitu “My Nation Is Humanity” (Nasionalisme yang memanusiakan manusia). Islamisme merupakan faham dari ajaran agama Islam yang bersifat dogmatis. Islam juga menolak imperialisme karena bertentangan dengan kaidah-kaidah dalam pandangan Islam, karena Islam tidak mengajarkan dalam merugikan orang lain. Sedangkan marxisme merupakan gerakan revolusi yang diadopsi oleh Bung Karno melihat realitas kaum proletar di eksploitasi keringatnya yang tidak sesuai denagan upah yang begitu wajar (atau kerja tanam paksa di era Belanda).

Selengkapnya

Lihat Semua Publikasi

Galeri

Galeri kegiatan DPC GMNI Surabaya


13 Mei 2019

13 Mei 2019

9 Mei 2019

9 Mei 2019

6 Mei 2019

7 Juli 2018
Lihat Semua Galeri